Kelas :
IX-B
Pendidikan
Lingkungan Hidup
Bukti
Peninggalan Sosial Budaya
1.
Prasasti Ciaruteun

Prasasti
Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, tidak jauh
dari sungai Ci Sadane, Bogor. Prasasti tersebut merupakan peninggalan kerajaan
Tarumanagara. Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam
bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari tiga
baris dan pada bagian bawah tulisan terdapat pahatan gambar umbi dan
sulur-suluran (pilin), sepasang telapak kaki dan laba-laba.
Teks:
vikkrantasyavanipat eh
srimatah purnnavarmmanah
tarumanagarendrasya
visnoriva padadvayam
Terjemahan:
“Inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang
seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang
Purnnawamman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.
Cap
telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tempat ditemukannya
prasasti tersebut. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang
diibaratkan Dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung
rakyat.
2.
Candi Cangkuang
Candi
Cangkuang adalah sebuah candi Hindu yang terdapat di Kampung Pulo, wilayah
Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Candi inilah juga yang pertama
kali ditemukan di Tatar Sunda serta merupakan satu-satunya candi Hindu di Tatar
Sunda. Candi ini terletak bersebelahan dengan makam Embah Dalem Arief Muhammad,
sebuah makam kuno pemuka agama Islam yang dipercaya sebagai leluhur penduduk
Desa Cangkuang.
Desa
Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain
Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur. Nama
Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada. Kata
'Cangkuang' sendiri adalah nama tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus),
yang banyak terdapat di sekitar makam, Embah Dalem Arief Muhammad, leluhur
Kampung Pulo.
Candi
Cangkuang terdapat di sebuah pulau kecil yang bentuknya memanjang dari barat ke
timur dengan luas 16,5 ha. Pulau kecil ini terdapat di tengah danau Cangkuang
pada koordinat 106°54'36,79" Bujur Timur dan 7°06'09" Lintang
Selatan. Selain pulau yang memiliki candi, di danau ini terdapat pula dua pulau
lainnya dengan ukuran yang lebih kecil. Candi Cangkuang sebagaimana terlihat
sekarang ini, sesungguhnya adalah hasil rekayasa rekonstruksi, sebab bangunan
aslinya hanyalah 40%-an. Oleh sebab itu, bentuk bangunan Candi Cangkuang yang
sebenarnya belumlah diketahui.
3.
Prasasti Tugu

Prasasti
Tugu adalah salah satu prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanagara.
Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh
Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22
masa pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk
menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa
pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
Dibandingkan
prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan
prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti
ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnnawarmman pada tahun ke-22
sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai
Gomati dan Candrabhaga.
Prasasti
Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya
dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang
ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir
kalimat-kalimat pada prasastinya.
Teks:
pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata
khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau
pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa
narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana
prarabhya phalguna mase khata krsnastami
tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih
ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca
dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka
pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim
brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina
Terjemahan:
“Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah
digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat
yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran
sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari
tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan
kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang)
beliau pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan
berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir
melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja
Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap
bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian
tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana
disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”
No comments:
Post a Comment